
Di komunitas wetutelu Lombok kelahiran nabi ini bahkan menjadi seremoni paling sentral komunitas tersebut. Diselenggarakan pada bulan Rabiulawal setiap tanggal 14 (dalam hitungan wetutelu adalah tangal 11 maulud). Acara Maulid diselenggarakan di mesigit (masjid wetutelu). Acara maulid di sejumlah masjid wetutelu punya detil yang beragam, namun pada dasarnya punya pokok yang serupa. Di masjid bayan, misalnya, diadakan arak-arakan sepsang laki-perempuan yang menjadi simbol adam dan hawa (ini adalah perayaan kelahiran Muhammad, namun mereka melakukan simbolisasi dengan adam-hawa sebagai pengantin pertama di muka bumi), mereka menyebutya ”praja maulid”. Hal serupa tidak dijumpai dalam perayaan maulid di masjid semokan. Masyarakat membawa berbagai makanan menuju tempat upacara di tengah hutan semokan. Dari rumah pembekel—semacam kepala dukuh— dibawa seperangkat gamelan, ditabuh sepanjang jalan menuju masjid. Hewan-hewan disembelih. Biasanya masyarakat membawa hewan untuk disembelih demi memenuhi kaulnya (nazdar).
Pada malam harinya, Amaq kiai dan santri kiai melakukan sholat maghrib dan isya. Pelaksanaan sholat ini merupakan pertistiwa istimewa, sebab para kiai tersebut hanya menjalankan sholat di masjid ini pada waktu-waktu tertentu: Hari raya Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendek (Idul Adha), Ramelan (Ramadhan), dan Maulid Setiap melakukan upacara sholat ini para santri membawa sendiri tikarnya dari rumah. Mereka melepas dodot (ikat pinggang) dan digunakannya sebagai sarung hingga menutupi lutut. Tak ada doktrin yang menuntun itu. Semua berdasar pada apa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Setelah semua makanan tersaji, kiai akan mengucapkan doa, kemudian acara makan dimulai. Acara ini bisa jadi merupakan puncak karemaian ketika semua orang seperti berpesta dengan wajah berbinar melahap makanan yang tersedia. Para perempun bekerja di dapur umum memasak dan menyajikannya. Menambah semarak suasana., dalam acara maulid ini juga diadakan perisaian. Perisaian adalah permainan tradisional masyarakat Lombok. Dua orang laki-laki dewasa memawa rotan dan perisai dan saling menggebuk. Di kawasan adat Bayan, perisaian juga dilakukan untuk meminta hujan, sedangkan di Wet Semokan upacara minta hujan dilakukan dengan cara slametan biasa.
Praktik perayaan maulid wetutelu ini jelas berbeda dengan perayaan maulid di berbagai belahan dunia lain.sebagaimana kita ketahui, di seluruh penjuru dunia islam kita bisa menjumpai aneka ragam perayaan kelahiran nabi Islam itu. Di Jawa misalnya, kita mengenal adanya sekaten, yang kini tampil serupa pasar malam.
Agama, dengan demikian, pada akhirnya datang bukan melulu berupa segepok ajaran tapi juga laku manusia, tingkah polah, atau praktik budaya. Dan sebagai polah manusia, sudah pada galibnya jika ia bersifat dinamis. Ada proses mengambil dan membuang. Memberi makna-makna baru dan seterusnya. Hari lahir nabi yang di tempat asalnya tak punya ujud yang pasti lantas bertebaran menjadi mozaik warna-warnipraktik yang maknanya bisa jadi juga tidak serupa. Jika demikian halnya, lantas masih perlukah pertanyaan tentang otentisitas? Tentang bidaah atau bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar